Menggali Nilai-Nilai Tanggung Renteng (IV)

Wednesday, July 28, 2010 10:10
Posted in category TANGGUNG RENTENG

Disamping sebagai pengaman asset, dalam penerapannya sistem tanggung renteng juga melakukan proses perubahan sikap dan perilaku anggota. Perilaku yang dilandasi oleh nilai – nilai kearifan yang kemudian lebih dikenal sebagai nilai-nilai tanggung renteng.

Nilai Kebersamaan muncul karena setiap bulan anggota yang terhimpun dalam kelompok mengadakan pertemuan. Mereka bertemu dan berinteraksi, sehingga bukan hanya kedekatan fisik yang terjalin, tapi juga kedekatan emosional diantara anggota. Kebersamaan ini akan terus diuji pada setiap waktu dan akan terlihat disaat pertemuan kelompok. Utamanya hal tersebut bisa dilihat dalam proses pengambilan keputusan di kelompok. Ukurannya adalah seberapa banyak anggota yang terlibat dalam pengambilan keputusan tersebut. Karena keterlibatan ini akan terkait dengan rasa tanggung jawab terhadap konsekuensi dari hasil keputusannya. Dengan kata lain kebersamaan dalam kelompok akan tercermin dari cara pengambilan keputusan dan cara menyelesaikan masalah kelompok.

Itulah sebabnya musyawarah menjadi sarana penting dalam setiap pengambilan keputusan ditingkat kelompok. Sedang kualitas keputusannya sangat bergantung pada tingkat kejujuran dan keterbukaan setiap anggota saat menyampaikan pendapat. Semakin tinggi tingkat kejujuran dan keterbukaannya, akan semakin akurat keputusan yang diambil dan resiko akan semakin bisa diminimalisir. Tingkat kejujuran dan keterbukaan setiap anggota ini pula yang nantinya juga akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diantara mereka. Nilai-nilai tersebut tentunya memerlukan perawatan, baik oleh pengurus maupun seluruh anggota secara bersama, melalui mekanisme yang ada.

Dalam penerapan sistem tanggung renteng juga menuntut adanya kedisiplinan setiap anggota. Mereka harus disiplin dalam waktu, disiplin dalam menjalankan aturan yang telah ditentukan koperasi maupun hasil kesepakatan dalam kelompok. Pelanggaran terhadap kedisiplinan akan terkena sanksi, bukan saja sipelanggar sendiri tapi juga seluruh anggota dalam kelompok tersebut. Jadi setiap tindak penyimpangan akan memberi resiko bagi semua anggota kelompok.

Seperti misalnya seorang anggota tidak hadir dalam pertemuan kelompok sehingga kewajiban angsuran juga tidak terbayar. Akibat dari ketidak disiplinan ini akan menjadi tanggungan seluruh anggota dalam kelompok tersebut. Dengan pola demikian akan muncul rasa malu diantara mereka jika sampai lalai dalam pemenuhan kewajibannya. Begitu pula kontrol serta saling mengingatkan juga akan terjadi diantara anggota dalam kelompok. Sehingga memunculkan rasa tanggung jawab dari setiap anggota, baik terhadap eksistensi diri sendiri maupun kelompoknya.

Setiap anggota secara tidak sadar juga akan tertuntut untuk berbuat disiplin dalam menghadiri pertemuan kelompok. Ia harus tetap hadir, memenuhi kewajibannya, aktif berpartisipasi dalam kelompok, serta positif dalam memberikan tanggapan. Karena bila ia jarang menghadiri pertemuan kelompok ia akan kesulitan mendapatkan dukungan dan persetujuan anggota yang lain khususnya ketika mengajukan pinjaman. Hal ini terjadi karena ketika ada anggota lain mengajukan pinjaman ia juga tidak pernah hadir untuk ikut memberi tanda tangan sebagai tanda persetujuan. Dengan pola seperti ini yang dilakukan secara konsisten akan memunculkan rasa tepo seliro atau empati terhadap sesama.
Dengan demikian, dalam perjalanan penerapan sistem tanggung renteng akhirnya dapat digali sebuah tata nilai kearifan yang semakin memperkuat eksistensi sistem ini. Sebuah tata nilai yang menjadi landasan dalam aplikasi sistem tanggung renteng. Tata nilai kearifan tersebut adalah :
• Kebersamaan
• Kejujuran dan keterbukaan
• Saling percaya
• Musyawarah
• Kedisiplinan
• Tanggung jawab

Incoming search terms for the article:


You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline